Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

In my story

Love In The Village

Last Chapter : Chapter 7 - Kenangan Terindahku




Akhirnya, masa seminggu berlalu dengan jalan-jalan sekitar desa (oleh ibuku) dan melihat air terjun indah di desa Haggard (oleh Janet). Dan, lusa lah perpisahanku dengan desa ini.
            Aku mengemas barang-barangku dengan lesu. Ya, kulitku memang sudah banyak menyoklat selama musim panas ini, dan tanganku menjadi kasar. Tapi, yang penting aku sehat, kata ibuku.
            Lalu, aku memutuskan kembali ke sungai, tempat kenangan ku bersama Rick, dengan Brozzie. Aku turun dari Brozzie, dan duduk dibatu besar. Namun aku terkejut dengan suara di belakangku.
            “Clare!”
            Aku menoleh. Rick datang, dengan terengah-engah. Ia memakai t-shirt biasa, untuk jalan-jalannya sehari-hari. Aku hendak pergi, namun ia berhasil menangkapku.
            “Ku mohon, jangan pergi dulu.”
            “Lepaskan aku!” jeritku.
            “Tolonglah.. ku mohon!”
            “Lepaskan!”
            “Clare! Kau harus mendengarku dulu—tolong!”
            “Tidak!”
            “Please Clare! Dengarkan aku satu menit saja!”
            “Tidak mau, da—“
            Tapi aku takkan pernah menyelesaikan kata-kataku, karena ia menciumku tepat di bibir. Ciumannya membuatku ingat semua kenangan kita berdua yang hanya sedikit, dan membuatku serasa terbang ke awang-awang.
            “A-apa!?” seruku sambil memegang bibirku. Bekas ciumannya, yang ragu-ragu, masih membekas disitu.
            Ia tak bicara apa-apa, melainkan berlari pergi.
            “Rick!” panggilku. Ia tetap berlari pergi meninggalkanku. Mungkin saja untuk selama-lamanya.
            “Tapi Rick!” aku menangis. “A-aku mencintaimu!”
            Ia melesat datang, sambil nyengir. “Aku sudah memperkirakan kau akan berkata begitu.” Katanya.
            Aku terperanjat. Artinya, aku masuk dalam jebakannya!
            “huuh..” kataku, sok cuek lagi. “Ya sudah, sana pergi.” Aku mengelap air mataku, tak berani menatapnya.
            “Tak apa, aku sudah putus dengan Sherleen kok.” Jelasnya. Horeee.. berarti ada kesempatan dong.        Lalu, aku ingat hariku tinggal dua lagi di desa ini. Aku mencoba melepaskan pegangannya.
            Tapi tiba-tiba aku mendapat ide. “Sudahlah Rick.” Desahku sambil menangis. “A-aku tahu kok ini hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja—aku tahu semenjak pertama melihatmu, pasti kau takkan mau dengan ku, gadis kota yang sok cuek ini.”
            Dan.. Rick mendesah tak sabar juga. “Bu-bukan begitu maksudku!”
            Aku berlari menuju Brozzie, dan menaikinya. “Baiklah, ini kenangan indah denganmu. Aku tahu, kau mau pacaran dengan Sherleen pun tak apa kok. Mungkin, pacarku ada di suatu tempat lain.” Kataku, lalu bersiap untuk pergi dengan Brozzie.
            Tapi secepat kilat ia menaiki Brozzie. “Tapi Clare!” katanya, “Ayolah, aku hanya bercanda mempermainkanmu tadi. Tapi, iya, aku-aku..”
            Aku tak tahan lagi berakting. “Katakanlah, Rick. Jangan jadi pengecut!” balasku sambil tertawa. Ia menatapku jengkel. “Kau mempermainkanku juga!” katanya, lalu kami tertawa.
            Aku memikirkan satu hal yang masih tersimpan di benakku.
            “Rick—“ kataku serius. Ia juga kembali serius. “—tapi, apa kau menjagaku hanya karena janjimu pada ayahku?”
            Kemudian ia tertawa. “Oh, tolonglah!” katanya, “Tentu saja tidak. Kau tahu kan, apa perasaanku, dan sejak kapan aku merasakannya?”
            Aku benar-benar bingung. “Perasaanmu apa? Dan sejak kapan kau rasakan?”
            Ia menunggang Brozzie dengan lincah. “Kau benar-benar tidak peka ya, Clare.”

            Dan, ia mengajakku ke Summer Festival. Di sana ia mengajakku berdansa—walaupun begitu, aku belum mendapat jawaban atas pernyataanku.



            “Clare..” Ibu duduk di kursi depan (ayahku mengemudikan mobil)”—bukannya kau harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang?”
            Aku berpikir sejenak. “Ibu, dia kan anak desa, lagipula mana mungkin—“
            BLAAK pintu mobil menjeblak terbuka. Aku, yang duduk di kursi belakang, terkesima melihatnya. Rick, dengan sangat tampan, masuk dan duduk disebelahku.
            “Maafkan keterlambatanku, Mr. McFarrel.” Katanya, lalu ayahku mengemudikan mobil keluar desa Haggard.
            Aku berbisik padanya, “Hei, Muller! Mengapa kamu ke kota!?”
            Katanya, “Tapi kan, aku tak bisa meninggalkan gadis yang kusuka pergi ke kota.”           
            Aku terkejut. “Ja-jadi?”
            “Ya, aku akan menuntut ilmu dikota, sampai universitas nanti. Dan selama ini, taukah kau dimana aku akan tinggal?”
            “Dimana!?” tanyaku penasaran. Mungkin ia akan tinggal disuatu tempat dengan Sherleen atau Fifian..
            “Di rumahmu. Kata ayahmu, ia bersedia membagi satu kamar denganku, hingga aku ke universitas, dengan janji akan selalu menjagamu. Dan lagi –“ ia mendeham perlahan, mencoba untuk tidak menarik perhatian ayah dan ibuku. “—aku kan tak mungkin meninggalkan mu sendiri.”
            Dan aku yakin, masa-masa bersamanya akan tercapai di depan, dengan kenangan desa Haggard yang tetap akan tersimpan di hatiku.
            Sampai jumpa desa Haggard, terimakasih ku yang dalam padamu, karena telah memberikanku kenangan terindah dengan pacar baruku yang usil ini.
            --dan mobil kami melaju melewati batas Haggard-New York.


END

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In my story

Love In The Village

Chapter 6 - Penderitaan Musim Panas


Seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua dan wajahnya berbintik-bintik menyapaku. Aku membalasnya.
            “I-iya. Namaku Clare.”
            Ia mengajakku kenalan. Namanya Janet, ia anak desa situ. Umurnya 13 tahun.  Katanya, tempat ini satu-satunya tempat yang ada komputer dan TV yang bisa digunakan secara gratis di desa ini.
            “Tadi kamu datang dengan Rick Muller ya?” tanyanya. Ooh, aku baru tau nama belakangnya ‘Muller’.
            “Ya. Dia pemanduku selama di desa ini. Kan, aku anak dari New York yang liburan di desa.” kataku menjelaskan. Janet mengangguk-angguk.
            “Oh. Memangnya dia mau jadi pemandu? Kan, dia anaknya cuek, tapi jago banget kalau olahraga. Terus dia pintar. Dan gak banyak omong. Si centil Fifian aja sampai suka.” jelas Janet.
            “Fi-Fifian?” tanyaku. Namanya aneh banget sih.
            “Iya. Dia anak terkaya di desa ini, tapi mungkin saja dia kalah denganmu. Kamu kan anak kota. Tapi Fifian centil sekali kalau sama Rick. Tadi dia masuk ke kelas yang sama dengan Rick. Yaah, memang sih Rick tidak pernah melirik Fifian sama sekali.”
            “L-lalu, siapa yang di lirik oleh Rick?” aku mulai penasaran.
            “Eh, untuk kamu, aku kasih tahu deh. Rick itu suka dengan—“ Janet merendahkan suaranya, “—Kelly.”
            DEG! Jantungku serasa jatuh kebawah. Ke dasar jurang, jatuh dan terus jatuh. Hatiku panas.
            “Ke-Kelly itu siapa?”
            Ia memandangku heran. “Loh, kok kita jadi ngomongin Rick sih?” tanyanya, tapi melihat ekspresiku, dia melanjutkan, “Kelly itu anak desa sini. Dia ramah, dan baik. Lalu, mereka pacaran. Baru pacaran dua bulan, lalu Kelly meninggal.”
            Aku terkejut. Hatiku dag dig dug mendengarnya. Berarti- statusnya masih pacaran ya?
            “Oh, lalu sekarang dia sudah pacaran lagi, sama Sherleen.” lanjut Janet sambil mengedikkan kepala ke seorang anak pendiam di sudut ruangan. Ia sedang asyik membaca buku. Dan aku terkejut melihatnya. Anaknya tidak terlalu cantik, Janet saja lebih cantik. Bajunya kumal. Aku memandang Janet bingung.
            “Ya. Nah, hubungan mereka tidak terlalu baik, kau tahu? Dan sepertinya ini pacaran yang dipaksakan.” Janet menghembuskan nafas, “—karena masing-masing tampaknya gak suka dengan yang lain, tapi harus pacaran.”
            Sekarang, aku serasa jatuh ke jurang. Jatuh, jatuh, sampai tak pernah menyentuh dasarnya. Jadi inilah Rick, seorang cowok yang pacaran bahkan sebelum putus dengan pacarnya yang dulu, tapi boleh saja, karena ceweknya sudah meninggal. Tapi berarti, bahwa Rick masih mencintai pacarnya yang dulu, Kelly. Jadi, aku selama ini apa? Hanya seorang cewek menyusahkan, yang karena aku ia tak bisa menikmati liburan musim panasnya dengan tenang, malah diminta menghabiskan liburan dengan cewek kota yang kasar sepertiku. Hatiku kembali panas. Tak terasa, air mataku menetes.
            “Clare!? Kamu kenapa!?” lalu ia meraba keningku. “Ya Tuhan, Clare, kamu demam tinggi! Tunggu ya, akan kupanggilkan Rick dulu—“
            Tapi, sebelum ia beranjak pergi, aku memegang tangannya. “Ja-jangan Janet! A-aku su-sudah cu-cukup merepotkannya. Mu-mungkin.. Ngg.. ka-kau bi-bisa me-menga-mengantarkanku naik ku-kuda? Ku-da ku d-diluar. To-tolong, y-ya J-Jan-Janet!” kataku tergagap. Ya, karena aku bisa merasakan kalau wajahku memucat. Janet mengangguk dan membawaku ke Bronzzie. Ia menaikanku dibelakang, dan mengendarai kuda dengan cepat hingga di rumahku.
            Ibuku keluar rumah dengan panik. Ia mengucapkan terimakasih pada Janet, yang segera kembali ke Summer Academy karena ia mengikuti kelas Sastra. Aku di baringkan di kamarku, sementara ibuku mengambil kompres.
            Ia mengukur panasku, lalu berteriak. “Ya Tuhan, 39 derajat! Kita harus panggil dokter—tunggu sebentar ya, nak!”
            Ibuku menelepon dokter, yang segera datang.  Dokter itu memeriksa ku, dan menyuruhku istirahat selama 3 hari dulu, jangan keluar rumah. Dan memberiku obat, tentu saja.
            Setelah dokternya pergi, ibuku menyuruhku minum obat. Setelah itu aku istirahat dikamar. Tapi aku tidak sepenuhnya istirahat, karena aku hanya melongokkan  kepala keluar jendela, untuk melihat suasana desa.
            Oh ya, aku belum sepenuhnya menceritakan apa saja yang kulakukan di desa selama 2 minggu. Yah, kebanyakan sih keliling desa dengannya. Tapi ia orang yang asyik, dan aku senang melewatkan waktu bersamanya. Ia tak pernah bilang, “Aduh, bodoh sekali sih kamu!” atau mengumpat dengan kata-kata kasar lainnya. Ia juga sopan sekali (walaupun tidak padaku). Tapi, aku bisa melihatnya dengan orang-orang dewasa.
            TOK TOK TOK
            “Masuk!” seruku. Ibuku masuk ke dalam kamarku, sambil membawa air teh hangat.
            “Clare, Rick menunggu di depan tuh.” kata Ibuku sambil meminumkanku teh hangat. Tapi, aku sedang tak ingin bertemu Rick. Kalau Janet, mungkin iya. Aku masih harus mengorek informasi lagi darinya.
            “Ti-tidak sekarang Bu. Aku mau istirahat.” tolakku. Ibu mengangguk, dan kembali keluar kamar.
            Tak berapa lama kemudian, telepon berdering. Aku mengangkatnya.
            “Halo? Clare McFarrel disini.”
            “Clare?” seru suara disana. Aku sangat mengenal suara itu.
            “Rick?” tanyaku kaget.
            “Clare, ada apa? Kenapa kau tak memanggilku saja di kelasku? Kata ayahmu aku harus menjagamu. Tapi justru Janet yang bilang, kau panas tinggi.”
            Oh, aku sedang tak mau menjelaskan. Dan lagi, ia bilang ‘kata ayahmu’. Berarti, aku memang dianggap merepotkan, ya? Kalian benar, cinta pertama selalu menyesakkan.
            “Sudahlah Rick, kalau aku merepotkan ya bilang saja! Kalau dipendam justru membuatku frustasi tahu!” aku membanting telepon. Jantungku terus berdegup kencang dari tadi. Aku tak tahu mengapa. Tapi,  air mataku sudah merembes keluar.
            TLOK TLOK TLOK
            Tiga buah batu dilempar mengenai kaca jendela kamarku dilantai dua. Aku melihat kebawah. Tampak Rick sedang berdiri dibawah.
            Tapi aku tak mau menatapnya sekarang. Aku menutup gorden jendelaku, dan kembali mencoba untuk istirahat. Untungnya aku bisa tidur, namun dengan perasaan gelisah.


            “Clare? Kau sudah siuman, nak?” terdengar suara ibuku. Aku membuka mataku perlahan. Tampak cahaya remang, kemudian terang. Aku melihat wajah ibuku. Ia sangat gelisah.
            “Oh, bu.” kataku. Hari tampak sudah terang – berarti aku tidur dari pagi hingga pagi esok hari. “A-aku sudah tak pusing lagi. Bolehkah aku--?”
            “Tidak boleh.” Kata ibuku tegas. Ia menyelimutiku. “Sudah pagi, nak. Kau tidur dari  kemarin, tak sadar-sadar. Tapi untungnya Rick menjagamu semalam—“
            “Rick!?” teriakku. Hatiku kembali panas dan berdetak tak keruan lagi.
            “Ya. Clare, tapi Rick bilang kau meninggalkannya di Summer Academy. Ibu berpikir ada yang salah denganmu. Ada apa Nak? Tak apa, kau bisa menceritakan pada Ibu.”
            Akhirnya, semuanya terucap. Aku tak bisa menahan. Aku menceritakan tentang Rick, dan tentang rasa sukaku padanya. Dan terbukti, ibuku memang seorang pendengar yang baik. Ia mengelus rambutku.
            “Ya, aku tahu Clare. Perasaan suka itu biasa, kok. Dan lagi, itu hanya rumor. Kau harus bertanya yang sejujurnya padanya.” nasihat ibuku. Aku mengangguk.
            “Ta-tapi Bu, aku kan tak bisa bilang aku suka..” kataku. Ibuku mengangguk.
            “Ya, kau tak perlu bilang. Kau hanya harus bertanya perlahan padanya tentang masa lalunya, jangan sampai menyinggung.” Ibuku berdiri. “Baiklah, istirahatlah dulu. Kemarin siang Janet datang. Mungkin dia akan datang lagi hari ini.” Lalu keluar kamar.
            Aku kembali memandang jendela kamarku. Di luar, aku melihat sesuatu yang ganjil.
            Di bawah jendelaku, aku melihat Rick sedang berjalan, dengan Sherleen. Ya, keduanya tampak serius. Dan—mereka berjalan sambil bergandengan! Lalu di tikungan, mereka bahkan berciuman! Di belakang mereka tampak seorang pria dewasa. Ia memerhatikan mereka. Tapi, hatiku panas lagi. Aku hendak kembali menutup gorden, ketika tiba-tiba Rick menatapku.
            Ya, dia menatapku.
            Aku mencoba untuk tidak membalas tatapannya, tapi nihil. Tatapannya mengartikan, “Tunggu. Aku akan kesana sesudah ini.”
            Aku terenyak ke tempat tidurku, dan menghabiskan sarapan yang diberi ibuku.



            “Clare?”
            Tanya sebuah suara yang kukenal. Aku berdiri dari keasyikanku memandangi burung-burung, dan membuka pintu. Rick berdiri di sana dengan sebuket bunga.
            “Ha-halo.” Katanya. Suaranya tetap mantap seperti biasa. Aku menutup pintu kamarku lagi.
            “Clare, tunggu dulu! Kau tak bisa begini—aku bahkan tak tahu apa salahku! Setidaknya, jelaskanlah dulu!”
            Aku menunduk memandang lantai. Mataku kembali basah, dan memutuskan untuk tidak membuka pintu kamar.
            “Per-pergi saja kau.” kataku tercekat pada seorang cowok yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.
            “a-aku tak mau melihat wajahmu lagi.”
            Lalu hening. Aku membuka pintu kamarku lagi. Tampak sebuket bunga, dengan sepucuk surat di dalamnya. Aku membacanya.

Dear Clare,
            Aku minta maaf atas kesalahanku – tapi aku benar-benar tidak tahu apa salahku, hingga kau tak mau bahkan membukakan pintu untukku. Tapi aku benar-benar tak tahan begini ; aku tak tahan tidak dipedulikan olehmu.
            Oh, oke, itu kata-kata gombal. Maafkan aku. Tapi itu benar. Dan, aku akan menjelaskan semuanya, kalau itu yang kau mau.
            Cewek tadi itu Sherleen, dan aku tak mau ada kesalahpahaman. Dia itu pacarku,  tapi aku tak menyukainya dan dia tak menyukaiku juga. Kau tahu maksudku, Clare. Ya, kami dipaksa oleh ayahnya. Dan selama ini aku selalu berusaha menghindar dari ayahnya, kau tahu. Dan karena itu aku senang sekali saat mendapat kesempatan untuk menjadi pembimbingmu.         
            Sebelum bertemu, aku merasa kau itu seorang pesolek dan centil sekali, dan hampir saja membatalkan janjiku dengan ayahmu. Lalu, aku bertemu denganmu, dan pandanganku berubah total.
            Kau tampak manis sekali. Lalu aku mengajarimu berkuda, dan kau bertindak tak mau mendengarkanku. Dan aku membiarkanmu, karena aku tahu aku akan bisa menyelamatkanmu. Itulah tugas ayahmu, dan aku tak mau menjadi seorang pengecut. Dan kau selalu tampak mantap, sementara aku tidak. Mungkin aku berhasil menutupi kegugupanku, tapi kalau kau tahu yang sebenarnya kau pasti akan terkejut ; aku sangat gugup sewaktu bertemu denganmu.
            Kemudian kau mengajakku ke tempat rekreasi. Tadinya, aku mau mengajakmu dinner, namun, ya sudah lah tak apa. Dan, maafkan aku. Bukan maksudku menarik-narikmu kesana-kemari. Tapi, aku benar-benar kehabisan ide mau mengajakmu kemana, tempat manakah yang menurutmu menyenangkan, dan memberimu kenangan indah saat denganku. Aku memikirkan itu terus, kau tahu. Dan ya, aku sangat kaget saat kau memanjat pohon dan bilang, kau tak mau ditarik-tarik kesana kemari. Berarti, ya, berarti aku telah membuatmu marah. Aku berusaha menutupi kesalahanku dengan membawamu dinner.
            Dan, kau tahu, kau sangat oke dengan baju renangmu, dan sangat cantik dengan baju pestamu.
            Oh, sedikit tambahan. Dan—ya, Kelly memang sudah meninggal. Tapi kau harus tahu kalau aku tak punya perasaan apa-apa pada Sherleen.
            Oke, see you.

Maafku yang sebesar-besarnya,
Rick Muller

            Aku terenyak ke tembok setelah membacanya. Sungguh, aku sangat kaget dibuatnya. Ya, dia memang selalu mendatangkan kejutan. Tapi tetap saja hatiku panas dan tak mau melihatnya lagi.

Next : the last chapter : kenangan terindahku

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In my story

Love In The Village

/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:Kartika;
panose-1:2 2 5 3 3 4 4 6 2 3;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:8388611 0 0 0 1 0;}
@font-face
{font-family:"Comic Sans MS";
panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4;
mso-font-charset:0;
mso-generic-font-family:script;
mso-font-pitch:variable;
mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-ansi-language:FR;
mso-bidi-language:AR-SA;}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
-->

 Chapter 5 - Summer Academy

Hari-hari berlalu. Tak terasa, sudah 2 minggu aku disini. Ibuku, yang kebanyakan menulis di dalam rumah (ibuku seorang penulis), merasa sudah cukup aku bersenang-senang.
            “It’s time to school, dear.” Katanya. Aku mengeluh.
            “Ooh, please deh bu! Ini kan liburan, masa aku harus belajar?”
            “Ya nggak harus belajar kan, sayang? Yang ibu maksud itu sekolah musim panas. Tempatnya asyik kok. Kemarin, waktu ibu pergi ke supermarket, ibu lihat. Disana tempat anak-anak sebaya kamu ngumpul ; dan mereka semua bercanda-canda saja. Disana kamu bisa buat grupmu sendiri, dan mementaskan sesuatu di hari puncaknya, pada akhir liburan musim panas, Summer Festival. Itu kan seru, dear, dari pada main internet terus?”
            Aku terenyak di kursi depan komputer ku. “Tapi bu—“
            “Ayo.” kata ibu sambil membereskan piring bekas makannya. “Sekolahnya mulai pukul 9, satu jam lagi. Mandi lah. Ibu akan menelepon Rick, untuk mengantarmu ke Summer Academy.”
            Aku mandi dengan ogah-ogahan, lalu memakai kaus berlengan pendek dengan tudung, dan celana ¾. Dibawah, kulihat Rick telah menunggu.
            “Hai.” Katanya. Kali itu ia memakai t-shirt se siku, dan kemeja di balik t-shirt se lengan. Seperti biasa, ia tampak segar dan senyumnya menawan, walau agak berantakan.
            “Sudah siap ke Summer Academy?” katanya, lalu menuntunku naik Brozzie. Ia jalan kaki, sementara aku naik Brozzie.
            “Ngg.. Summer Academy itu dimana, sih?” tanyaku. Seumur hidup aku belum pernah ke Summer Academy.
            “Summer Academy itu di dekat sini, dekat Wedd’s Farm. Di sana banyak anak seumuran kita, kok. Lagian, kita hanya buat grup atau membicarakan sesuatu lah disana. Lalu kita belajar sesuatu, jika kita mau mengikuti kelas-kelasnya yang fun juga. Kalau gak mau ikut kelas, kita akan berkumpul di ruang bersama.”
            Akhirnya kita sampai di Summer Academy. Tempatnya besar, namun lebih kecil dari sekolahku di kota. Rick mengajakku masuk ke dalam. Tampaknya dia sudah akrab sekali dengan orang-orang disitu.
            “Hai Rick.”
            “Halo Rick!”
            “Wah Rick! Tumben kau datang!”
            “Siapa tuh Rick?”
            “Halo semua.” balas Rick. Tuh kan benar, dia ramah sekali sih, jadinya semua senang dengannya.
            “Clare, kau kutinggal disini dulu, ya. Aku ada urusan sebentar di dalam.” kata Rick, lalu masuk kesalah satu kelas.
            Aku duduk di bangku panjang. Memang benar, banyak anak disana. Mereka asyik makan makanan yang disediakan, ataupun saling bercanda. Ada yang main komputer, membaca, ataupun nonton TV. Aku heran, bahkan di desa ada komputer atau TV.
            “Hai, kamu anak baru ya?”

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In my story

Love In The Village

href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CASPIRE%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List">
Chapter 2 – Is This Love ?

            Dia-Rick, memakai atasan kemeja kotak-kotak, dan celana blue jeans. Rambutnya diatur ke atas, agak berantakan. Dan ia memakai boot coklat. Ku akui, penampilannya memang agak berantakan dengan lumpur di bootnya, namun aku suka style nya.
            Mobil ayahku menderum pergi, meninggalkan aku dan Rick berdua. Ibuku sudah masuk, tentu saja. Ia orang yang rapi, dan ia masuk ke rumah untuk mengatur segalanya dirumah tersebut.
            “Halo.” katanya. Suaranya khas remaja laki-laki, agak berat namun ada sedikit suara tingginya. Suaranya juga dalam. Dan sama sekali tidak bergetar.
            “Ha-halo.” balasku bergetar. Aku yakin ia agak tertawa mendengarku bicara, namun segera berkata lagi.
            “Namaku Rick.” Ia menjulurkan tangannya.
            “Aku- Clare.” Aku membalasnya.
            Tangannya hangat. Jarang aku menjabat tangan lelaki yang hangat – kecuali ayahku dan guru Olahragaku.
            Lalu ia menuntunku ke belakang rumah, dan disana ada 2 ekor –
            KUDA!
            Aku menyingkir, tidak mau mendekat ke kuda itu. Yang satu berwarna coklat, yang satu hitam pekat. Ia menaiki kuda yang berwarna hitam.
            “Yang coklat kudamu, ayahmu membelikannya. Namanya Brozzie. Ia jinak kok – aku sudah sering menaikinya.” kata Rick.
            Aku tetap tak mau mendekat, namun ia menuntun kudanya dan kudaku mendekat. Lalu ia turun, dan membantuku naik.
            “Pada hitungan ketiga ya, satu, dua, tiga, HUP!” ia mengangkatku loncat ke punggung kuda ku, lalu kembali naik ke kudanya. Kami berjalan menyusuri jalan desa yang sepi.
            “Badanmu enteng.” katanya.
            “Oh ya, itu untuk menjaga agar aku tak gendut-gendut.”
            Ia tertawa, namun menyembunyikannya. Lalu kami berjalan dalam diam.
            Lalu kami sampai di sebuah padang rumput. Ia mengajakku masuk, dan berlari mengelilingi padang rumput itu.   
            Aku memerhatikan dari jauh. Tertawanya indah. Apalagi matanya. Di perjalanan tadi, aku sering meliriknya. Aku memperhatikan matanya yang berwarna biru, indah sekali –
            Oh, apa yang kulakukan! Aku harus mempelajari caranya berkuda yang tepat! Karena tadi aku masih agak hampir terjatuh.
            “Baiklah, giliranmu.” Katanya lalu turun dari kudanya. Aku menatapnya ngeri.
            “Apa maksudmu!? Aku- aku tak mau naik ‘ini’ lagi! Ini membuat ku mual!”
            Padahal itu bohong besar. Aku suka naik Brozzie – ia tak pernah tiba-tiba melompat, dan ia selau berjalan dengan kecepatan yang kuinginkan.
            “Oh, ayolah.” Ia membetulkan sadel kudaku. “Tadi kau lumayan bisa kok. Tinggal menyempurnakan saat berjalan saja. Lalu, aku akan mengajarimu cara berlari sepertiku tadi dengan kuda.”
            Aku tetap tidak mau. Ingin turun tapi – aku tak bisa turun sendiri.
            Ia naik ke atas kudaku, dan duduk di belakangku. Lalu ia memegang pelana kudaku. “Aku akan mengajarimu caranya.”
            Tangannya hangat, aku merasakannya saat tangannya berada di atas tanganku, mengajariku memegang pelana. Tidak – aku tak mau merasakan ini. Aku tetap akan bersikap cuek padanya.
            “—dan jangan menekan terlalu kencang. Ia akan meringkik dan kau akan terlompat.”
            Oh, aku tak peduli!
            “Memangnya kenapa!? Ini kudaku kan, kendalinya ada padaku! Kalau aku mau menekan, ya, terserah dong!”
            “Yaah—tapi pelajaran berguna juga untukmu.” katanya lagi. Aku tak mengerti maksudnya, tapi aku mau berpura-pura cuek. Jadi aku menekan sekitar leher Bronzzie dengan keras.
            “KIIIIIIIIIIIIIIIIIKKK!”
            Kudaku meringkik keras dan melompat melewati pagar. Ia berlari terus dengan menabrak-nabrak gerobak jerami – terus hingga masuk ke –
            Sungai.
            JBUUUUUUUUUUUUUURRR
            Aku masuk ke sungai, dengan Bronzzie dan Rick. Oh tidak – aku juga tak bisa berenang!
            “Tolooooong!” kataku, megap-megap meminum air. Lalu aku pingsan.


            Rasanya hangat. Tapi bercampur dingin. Aku terbatuk, lalu membuka mataku.
            Aku melihat bajuku—basah. Kakiku yang hanya dilapisi rok selutut, tertutup dengan kemeja kotak-kotak.
            Kemeja kotak-kotak?
            Rick sudah melepas bajunya dan duduk di batu besar dekat sungai. Bronzzie sedang melahap rumput. Aku terduduk.
            “K-kau! A-apa yang ka-kau la-lakukan!?” seruku pada Rick. Rick menoleh lalu berjalan menghampiriku.
            “Kan sudah kubilang, kau harus diberi pelajaran sedikit. Ya sudah, inilah akibatnya.” Katanya santai.
            “Berarti kau membiarkanku hampir meninggal!”
            “Tidak, karena aku menolongmu.”
            Aku terdiam. Tapi ia benar – ia dititipkan tugas oleh ayahku untuk menjagaku, tak mungkin ia akan mencelakakanku.
            “Ooh.” Aku merasa pipiku memerah. “Te-terimakasih.”
            Ia nyebur ke sungai, lalu berenang bolak-balik. Dengan iri, aku melihatnya berenang dengan lincah. Ia melihatku menatapnya, dan berhenti berenang sejenak.
            “Kenapa? Kau mau berenang?” ia mengeringkan tubuhnya dengan bajunya, dan duduk di atas Bronzzie. “Besok aku datang lagi. Aku akan mengajarimu berenang. Sekarang, ayo pulang.”

Bersambung
Next -- chapter 3 : It's So Hard to Be Don't Care to The Person You Love

Ringkasan ch. 3 : Akhirnya, Clare diajak ke sungai untuk belajar renang oleh Rick. apa yang terjadi disana? Dan Clare menemukan bahwa -- susahnya menjadi cuek untuk orang yang kau sukai, pada pandangan pertama.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In my story

Love In The Village

Chapter 1
Goes to Village

< name="Generator" content="Microsoft Word 11">

“Apaaaaa!!??”

Aku menjerit. Ibu ku membelalakkan matanya. Ayahku mengangguk mantap.

“Maaf, tapi ayah tak mau mengambil risiko meninggalkan rumah dengan semua harta kita barang satu bulan saja. Ayah akan mengirim kalian semua ke desa – tak peduli apapun komentar kalian. Rumah ini akan ayah sewakan, dan dengan begitu kalian aman. Tak ada yang bisa menculik atau merampok kalian. Bukankah itu bagus?”

“Tidak sama sekali!!!” jerit ku masih dengan nada terkejut. “Ber-berarti aku harus meninggalkan mall, spa, saloon, restauran, dan mobil mewah untuk sapi-sapi yang bau dan menjijikan !?”

Aku menghambur ke pelukan ibuku dan mengisak. Ibuku mengadap ayahku.

“Theo, aku tahu kau sangat menyayangi kami. Tapi kalau memindahkan kami ke desa, bukankah itu terlalu—“

“Maaf Anne, keputusanku sudah bulat.” Sela ayahku. Aku terisak lebih keras. Aku gak mau pindah ke peradaban desa dengan orang-orang konyol dan kuno—pokoknya gak mau!!!!!

“Ayaaaah—“ aku mencoba mengubah pikiran ayahku.

“Tidak, Nak. Kau harus pindah ke desa dengan ibumu. Lagi pula, udara desa lebih sehat dari di kota. Di sana sejuk dan tidak panas seperti di sini.”

“Tapi ini kan musim panas, yah!” aku tetap berusaha mengambil hati ayahku, “Tolonglah—dimana-mana juga panas kok! Aku yakin, di desa pun aku takkan sebahagia disini!”

Ayahku menggeleng. “Sudah, ayah tak mau mendengar rengekan lagi. Simpan tangismu itu, Clare.” lalu ia beranjak masuk kamarnya.

Ibuku menatapku kasihan sambil mengelus rambutku, “Clare sayang, ibu tahu pasti berat bagimu untuk pindah ke desa, tapi ibu agak setuju dengan ayahmu. Mungkin di akhir pekan kita bisa selalu ke kota, untuk menemui teman-temanmu disini? Ibu tak keberatan kok.”

Aku tak menyangka. Ibuku yang lemah lembut dan baik itu bahkan setuju dengan rencana jahat ayahku! “Ibu jahat!” teriakku pada Ibuku. “Ibu sekongkol dengan ayah!!” segera aku berlari masuk kamar. Saat itu, aku sanga tak memedulikan perasaan ibuku.

Ohya, ngomong-ngomong soal perasaan Ibu – sekarang setelah aku mengingat-ingat Ibuku, aku tahu tindakanku itu salah. Kita tak boleh berbuat begitu pada ibu kita, kan? Apalagi mengingat, ia bahkan tak pernah menuntut balas akan jasa nya melahirkan ku di rumah sakit mewah. Ia tak pernah minta uang padaku, untuk mengganti segala uang yang telah dikeluarkannya selama aku hidup. Ia selalu menyayangiku, dan siap merelakan apapun demi diriku. Ia tak pernah berhenti mengucapkan namaku dalam doanya, dan selalu berdoa untuk keselamatanku –

Oh sial, air mataku mulai keluar.

Tapi sekarang aku betul-betul kesal pada semuanya, bahkan pada diriku sendiri.

Sekali ayahku sudah memutuskan sesuatu, takkan ada yang bisa mengubahnya. Kami, aku dan ibuku, akan pindah ke desa besok. Aku harus segera mengepak barang-barangku, atau aku akan meninggalkan semua barangku disini.

Jadi, aku harus mulai mengepak.

“Oke, sudah siap semua?”

Ayahku duduk di kursi sebelah supir. Aku dan ibu duduk dibelakang. Barang-barang kami di bagasi. Aku menitikkan air mataku, melihat rumahku yang mewah untuk terakhir kalinya. Oh ya, teman-temanku belum tahu aku pergi ke desa untuk menetap selama 1 bulan. Yang mereka tahu, di liburan musim panas ini aku akan pergi ke Jepang.

Mobil mulai melaju meninggalkan kota besar New York menuju desa Haggard. Disana kami akan menetap. Di sana nanti aku akan liburan dengan berjalan-jalan di sekitar desa – kata ayahku, ada anak kenalan ayahnya di desa, yang akan menuntunku di desa nanti. Dan aku akan menghabiskan liburan dengannya. Kata ayah, ia semacam pembimbing ku.

Tapi aku tahu, semua anak desa itu sama. Dengan hidung berbintik-bintik dan kulit kecoklatan. Dan wajah penuh jerawat yang besar-besar. Dan kesenangan mereka untuk memandikan sapi, dan merawat ayam-ayam. Rambut mereka pasti berantakan, dan tak pernah disisir. Apalagi pakaian mereka, dengan celana rombang-rombeng di sana sini. Ya, aku tahu pasti mereka semua sama ‘menjijikannya’.

Oke, kita sampai di depan rumah baru ku.

Rumahnya tidak begitu besar, namun (syukurlah) masih ada jaringan telepon dan TV parabola. Hancur hidupku jika tak ada dua barang itu!

“Halo Rick! Kau diutus oleh ayahmu bukan? Terimakasih untuk ketersediannya menuntun putriku selama ia menetap disini. Jaga dia, dan maafkan atas semua omongan kasarnya, ya.”

“Selamat pagi, Sir. Saya hanya akan membawanya keliling di desa ini saja kok Sir.”

Ayahku naik kembali ke mobil, setelah memastikan semua koper sudah diturunkan. “Terimakasih banyak, Rick. Clare—“ ayahku menatapku yang masih mendekam di mobil. “Ayo turun, dan berkenalanlah dengan sobat barumu, Rick. Ia pemandumu selama liburan musim panasmu ini. Ayah yakin kau akan senang dengannya – ayo turun!”

Oh, aku paling kesal dengan anak-anak desa. Tapi di bawah tatapan ayahku, akhirnya aku turun juga. Dan aku terkejut dengan apa yang kulihat.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Search This Blog!

Diberdayakan oleh Blogger.